Minggu, 10 Juli 2011

PENGERTIAN, RUANG LINGKUP DAN KILASAN LAPANGAN TENTANG TANAH

Pendahuluan
Dalam Bab I ini, membahas tiga pokok bahasan, yaitu a) pengertian/definisi lahan, tanah, dan
geografi tanah serta ruang lingkup geografi tanah; b) kilasan lapangan tentang tanah. Setelah
membahas tiga pokok bahasan tersebut, mahasiswa diharapkan dapat memahami materimateri yang
disajikan dalam ketiga pokok bahasan. Melalui pemahaman terhadap materi yang diberikan,
mahasiswa diharapkan dapat:
a) menjelaskan secara benar menegenai pengertian, definisi lahan, tanah, dan geografi tanah serta
ruang lingkupnya.;
b) Menjelaskan secara benar mengenai kilasan lapangan tentang tanah.
Pemahaman materi secara baik dapat dilakukan dengan cara membaca secara berulang, tergatung
kepada kemampuan mahasiswa dalam memahami materi yang disajikan dalam bab ini. Soal-soal
atau pertanyaan dan tugas yang disediakan pada bagian akhir bab ini disarankan untuk
dijawab/dikerjakan. Penbgerjaan terhadap soal-soal tersebut mahasiswa dapat mengukur
kemampuan diri sendiri dalam memahami materi yang disajikan.
Pengertian tentang lahan, tanah dan geografi tanah, dan ruang lingkup
Manusia tergantung pada tanah dan sampai batas-batas tertentu tanah yang baik tergantung pada
manusia dan pengelolanya, Tanah sebagai tubuh alam dimana tumbuhan dapat hidup. Peradaban
besar selalu memiliki tanah yang baik sebagai sumber alam utama. Selanjutnya peradaban ini akan
berlangsung kebesarannya selama merka cukup baik memelihara tanahnya sebagai tubuh alam.
Jatuhnya bangsa-bangsa besar yang menggunakan sungai-sungai Tigris, Efrat, dan lembah Sungai
Nil bersamaan dengan pengelolaan tanah dan air yang buruk. Hal ini membutuhkan perhatian kita
untuk bertindak tegas dalam meningkatkan sumber yang berharga itu.
Orang telah lama mengenal dan mempergunakan kata tanah, tetapi dalam perbincangan apa
sebenarnya tanah itu? Jawabnya adalah bisa bermacam-macam atau bahkan orang merasa
kebingungan untuk menjawab pertanyaan apa itu tanah. Tanah mempunyai bermacam-macam
pengertian yang dapat dipergunakan untuk berbagai tujuan. Semua orang yang hidup di planet bumi
akan mengenal wujud tanah, akan tetapi karena julatnya luas dan sifat serta penggunaannya oleh
manusia berbeda-beda maka tanah merupakan suatu obyek yang sangat besar. Sehingga untuk
manjawab pertanyaan apa tanah itu juga menjadi beragam, masing-masing jawaban akan
dipengaruhi oleh kepandaian dan minat orang yang menjawab, terutama dalam sangkut pautnya
dengan tanah. Misalnya seorang petani memandang tanah sebagai tempat untuk bercocok tanam,
seorang insinyur teknik sipil memandang tanah sebagai tempat untuk mendirikan bangunan, seorang
pembuat batubata dan genteng bahwa tanah merupakan suatu bahan yang baik atau tidak baik untuk
bahan baku, dan banyak lagi dikemukakan orang atau para ahli yang sudah pasti mempunyai
pengertian dan pandangan yang berbeda-beda.
Dalam pengertian teknik secara umum, tanah didefinisikan sebagai material yang terdiri dari butiran
(zarah) ataupun agregat dari mineral padat yang tidak tersementasi (terikat secara-bahan organik
yang te kimia) satu sama lain dan dari bahan-bahan organik yang telah melapuk yang berpartikel
pada disertai dengan zat cair dan gas yang mengisi ruang kosong di atara partikel-partikel padat
tersebut (Braja M Das, 1985: 1). Dengan demikian tanah berdasarkan sudut pandang teknik
kerekayasaan (bagi seorang teknik) tanah berfungsi sebagai penopang pondasi bangunan, oleh
karena itu dibutuhkan pemahaman terhadap sifat-sifat dasar dari tanah.
Berdasarkan luasnya pengertian tanah, maka sudah sewajarnya ilmu tanah merupakan ilmu
pengetahuan alam yang berdiri sendiri. Tanah, sebagaimana diperbincangkan dalam Ilmu Tanah
(Soil Science), terkandung bahan-bahan jasad hidup (organik) dan bahan-bahan bukan dari jasad
hidup (anorganik) yang lazimnya disebut pelikan (mineral). Dimana bahan-bahan anorganik dapat
mendukung jasad hidup. Jasad hidup dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya apabila
dalam tanah itu tersedia unsur hara, air, dan udara yang cukup.
Pengertian tentang tanah dapat ditinjau dari berbagai segi tergantung dari latar belakang para ahli
(Jamulya dan Suratman, 1983: 1-2), beberapa definisi tentang tanah antara lain sebagai berikut:
a) JJ. Berselius (1803), seorang ahli kimia mendefinisikan tanah sebagai laboratorium kimia di
alam dalam dimana berbagai proses dekomposisi dan reaksi kimia berlangsung secara tenang.
b) A.D. Thaer (1906) menyatakan bahwa permukaan planet kita ini terdiri dari bahan-bahan yang
remah dan lepas yang dinamakan tanah. Tanah ini merupakan akumulasi dari berbagai unsur
(Si, Al, Ca, Mg, Fe, dan lain sebagainya).
c) Fedrich Fallon (1855) seorang ahli geologi, mendefinisikan tanah adalah lapisan bumi teratas
yang terbentuk dari batuan-batuan yang telah lapuk.
d) Thornburry (1957) seorang geomorfologis, memandang tanah adalah sebagai bagian dari
permukaan bumi yang ditandai oleh lapisan yang sejajar dengan permukaan, sebagai hasil
modifikasi oleh proses-proses fisis, kimiawi, maupun biologis yang bekerja di bawah kondisi
yang bermacam-macam dan bekerja dalam periode tertentu.
e) V.V. Dokuchaev (1879), semula ahli geologi bangsa Rusia yang kemudian memprakarsai ilmu
tentang tanah yang pertama kali dinamakan “pedologi” sebagai ilmu pengetahuan alam yang
berdiri sendiri. Dikatakan bahwa tanah adalah bentukan-bentukan mineral dan organik di
permukaan bumi, yang sedikit banyak selalu diwarnai oleh humus, sebagai hasil kegiatan
kombinasi bahan-bahan seperti jasad-jasad baik yang hidup maupun yang mati, bahan induk ,
dan relief. Dari sudut padang Dokuchaev oleh Zakharov dianggap sebagai aksioma tanah yang
pertama, yaitu tanah adalah suatu tubuh alam historis yang bebas dan terpisah. Faktor-faktor
pembentuk tanah pada setiap zone iklim di daerah geografi menentukan jenis tanah yang
susunan genetisnya dinyatakan oleh penampangnya yang dinamakan profil.
f) F. Marbut dari Amerika Serikat (1927), mengembangkan teori Dekuchaev, yang mendefinisikan
tanah merupakan lapisan paling luar kulit bumi yang biasanya bersifat tak padu, gembur,
mempunyai sifat tertentu yang berbeda dengan bahan di bawahnya dalam hal warna, struktur,
sifat-sifat fisik, susunan kima, proses kimia, sifat bilogi dan morfologi.
g) Menurut ahli pertanian, tanah adalah lapisan paling atas dari permukaan bumi yang terdiri dari
bahan padat, air, udara, dan jasad-jasad hidup yang bersama-sama merupakan medium bagi
pertumbuhan tanaman.
Berdasarkan pada berbagai definisi dari para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tanah
adalah merupakan akumulasi tubuh alam yang bebas yang menduduki sebagian besar permukaan
bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman dan memilki sifat-sifat tertentu sebagai akibat dari
pengaruh iklim dan jasad-jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan relatif
tertentu selama jangka waktu tertentu pula.
Pengertian lahan (land) adalah permukaan daratan dengan kekayaan benda-benda padat, cair, dan
bahkan benda gas (Suryatna, 1985: 9). Kemudian (Karmono, 1985 dalam Haryoko, 1996: 13)
memberikan pengertian lahan adalah suatu daerah di permukaan bumi dengan sifat-sifat tertentu
yaitu adanya persamaan dalam hal geologi, geomorfologi, atmosfir, tanah, hidrologi dan penggunaan
lahan, sifat-sifat tersebut adalah berupa iklim, batuan dan struktur, bentuklahan dan proses, jenis
tanah, tata air, dan vegetasi/ tumbuhannya.
Jadi dalam pengertian lahan terbayang dalam pikiran kita tentang apa yang terkandung di dalamnya
dan bagaimana keadaan tanahnya. Dengan demikian lahan adalah ruang di permukaan bumi dapat
sebagai sumberdaya yang dapat dieksploitasi, dimana dalam pemanfaatannya hendaknya dilakukan
secara benar dengan mempertimbangkan kelestariannya.
Pengertian dan definisi Geografi Tanah menurut Tejoyuwono (1994:1) adalah mempelajari agihan
jenis tanah di muka daratan dan faktor-faktor yang menentukan agihan tersebut. Selanjutnya di
jelaskan pula bahwa agihan jenis tanah membentuk suatu bentangan atau mosaik tanah yang
disebut dengan pedosfer. Tiap-tiap wilayah memiliki mosaik tanah sendiri-sendiri karena perbedaan
fakto-kator penentunya. Suatu mosaik tanah mencitrakan bentangtanah (soilscape) yang menjadi
salah satu ciri fisik wilayah. Maka bentangtanah menjadi anasir bentanglahan (landscape). Pemilihan
jenis tanah yang membentuk mosaik tanah dikerjakan dengan klasifikasi tanah. Mosaik tanah sebagai
fakta kewilayahan diungkapkan dalam kartografi tanah.
Kata “geografi” dalam istilah geografi tanah digunakan untuk memberikan konteks pada sistem atau
metode telaah, tidak dikonotasikan sebagai ilmu Jadi geografi tanah ialah ilmu tanah yang menelaah
tanah menurut sudut pandang geografi. Geografi sebagai konteks mengimplikasikan bahwa
pembicaraan mata telaah (subject matter) menempatkan segala gejala yang tersidik dalam matra
ruang atau space dimension. Bentangtanah sebagai suatu ciri fisik wilayah mengimplikasikan
potensinya sebagai sumberdaya wilayah yang bersangkutan. Potensi sumberdaya selanjutnya
menyediakan kriterium tataguna tanah (Tejoyuwono, 1994: 1).
Lebih lanjut dikemukakan bahwa geografi tanah dipelajari lewat pemahaman unsur-unsurnya, yang
meliputi:
a) Tanah sebagai gejala bentanglahan; bentangtanah; pedosfer
b) Pelapukan; pembentukan tanah
c) Ragam dan harkat tanah dalam konsep rangkaian kausal faktor, proses dan reaksi, sifat, dan
fungsi.
d) Klasifikasi tanah; kartografi tanah
e) Agihan regional tanah; sumberdaya tanah
f) Inventarisasi tanah; sistem informasi tanah.
Pendapat lain yang mengemukakan definisis geografi tanah adalah ilmu yang mempelajari tentang
tanah, meliputi sifat-sifat fisik, genesis, penyebaran, dan aplikasinya terhadap kehidupan manusia
(Jamulya dan Suratman, 1983: 3) Karena definisi ini terbangun dari definisi geografi, yaitu
mempelajari hubungan timbal balik antara lingkungan fisik dengan lingkungan manusia, dimana tanah
dikaitkan dengan pertanyaan dalam geografi yaitu:
a) What, yang mencakup tanah termasuk fenomena dan sifat-sifatnya (properties)
b) Why, menyangkut suatau proses beradanya atau pembentukannya (genesis tanah)
c) Where, dimana penyebarannya di permukaan bumi,
d) What for, berkenaan dalam hal hubungannya dengan kehidupan manusia atau aplikasinya.
Tujuan Geografi Tanah adalah untuk mencatat (record) dan menjelaskan genesis, perkembangan,
sifat-sifat dan agihan tanah-tanah pada permukaan bumi yang diwujudkan dalam peta tanah. Untuk
mencapai tujuan ini diperlukan metode survei tanah, yang pada garis besarnya menggunakan
metode;
a) hampiran geografi dengan pendekatan fisiografi atau bentuklahan (landform) dan
b) hampiran parametrik.
Hampiran pertama (hampiran geografi) mempertimbangkan bahwa tanah merupakan tubuh alam tiga
matra sebagai salah satu anasir bentanglahan, maka Edelman (1957) dalam Jamulya (1989: 11) telah
merintis dalam mengenalkan metode fisiografi dalam pemetaan tanah. Karena itu pengembangannya
banyak diperlukan ikatan ilmu tanah dan geomorfologi.
Dalam Geografi, studi tentang bentanglahan (landscape) yang di dalamnya termasuk studi
bentuklahan (landform) merupakan obyek utama dalam geografi fisik. Bentuklahan pada dasarnya
merupakan hasil pengaruh faktor-faktor struktur, proses, dan stadia. Faktor struktur sebenarnya
merupakan manifestasi dari faktor topografi dan batuan, sedang faktor proses adalah akibat pengaruh
faktor iklim yang menyebabkan proses geomorfologi dan pedogen, dan faktor stadia yang tergantung
pada faktor waktu. Dengan demikian terdapat kesamaan antara faktor-faktor pembentuk tanah. Atas
dasar kesamaan faktor-faktor tersebut satuan bentuklahan dapat dipergunakan sebagai dasar di
dalam deliniasi satuan peta tanah, sehingga masalah deliniasi satuan peta dapat dibuat dengan
hampiran geografi. Dalam hampiran geografi dipergunakan analisis keruangan, ekologi dan
kewilayahan.
Hampiran ke 2 dalam survei tanah yaitu hampiran parametrik. Dent & Young (dalam Jamulya (1989:
12) bahwa hampiran parametrik lebih erat hubungannya dengan pengembangan ”soil database”.
Ketersediaan database memungkinkan analisis dilaksanakan kapan saja sesuai dengan kebutuhan
dan tidak terikat pada suatu aturan yang baku, bersifat sendiri-sendiri untuk masing-masing parameter
lahan dan secara otomatis dalam bentuk garis pada peta (isoline). Hampiran parametrik pada
umumnya mengarah pada penggunaan analisis numerik (numerical analysis) yang berasosiasi erat
dengan analisis digital pada penginderaann jauh.
Pada dasarnya dari kedua pendapat yang telah disitir, menerapkan atau menggunakan pendekatan
geografi dalam mempelajari tanah dalam suatu wilayah.
Kilasan lapangan tentang tanah
Butiran-butiran (zarah) mineral yang membentuk bagian padat dari tanah merupakan hasil pelapukan
batuan. Ukuran setiap zarah padat tersebut sangat bervariasi dan sifat-sifat fisik dari tanah banyak
tergantung dari faktor ukuran, bentuk, dan komposisi kimia dari zarah. Untuk lebih jelasnya tentang
Horizon O
Horizon A
Horizon B
Horizon C
Horizon R
faktor-faktor tersebut, harus lebih jelasnya tentang faktor-faktor tersebut, harus lebih dahulu mengenal
tipe yang membentuk batuan, dan proses pelapukan.
Berdasarkan asal mula pembentukannya, batuan dapat dibagi menjadi tipe-tipe dasar yaitu: batuan
beku (Igneous rocks), batuan sedimen (sedimentary rocks), dan batuan metamorf (metamorphic
rocks). Batuan yang ada di permukaan bumi ini mengalami siklus seperti halnya yang terjadi pada
siklus hidrologi, siklus geologi ataupun siklus-siklus yang lain. Siklus yang terjadi pada batuan terjadi
dalam waktu yang sangat lama. Sebagai gambaran tentang terjadinya/adanya siklus batuan yang
dapat terjadi di bumi ini, disajikan pada gambar berikut.
Gambar I - 1. Diagram siklus batuan
Jika kita ingin mengenal dan mempelajari ujud dan sifat-sifat tanah sesuai aslinya di lapanan, dapat
kita buat lobang pada tanah. Ternyata merupakan tubuh alam tiga demensi, yaitu mempunyai
penyebaran ke arah vertikal dan ke arah horizontal. Penyebaran ke arah vertikal dari permukaan
sampai berbatasan dengan lapisan batuan induk, sedangkan ke arah horizonal mengikuti topografi
permukaan bumi. Penampang vertikal tanah yang kurang lebih sejajar dengan permukaan tanah
disebut “horizon tanah”. Adapun susunan dan lapisan tanah (horizon tanah) adalah seperti dalam;
Gambar I –2.
Gambar I – 2 . Horizon tanah
B.
Sedimen
Sedimentasi
B.
Metamorf
Magma
B.
Beku
Mencair
Peristiwa
metamorf
Pemadatan
Sedimentasi
Kristalisasi
Proses erosi,
pengangkatan
Lapisan atau horizon tanah tertentu suatu profil tanah umumnya mengandung banyak bahan organik
dan berwarna kehitaman, berpori-pori/ rongga-rongga tanah lebih longgar, merupakan zone
perakaran dan kegiatan organik (jasad hidup tanah). Lapisan tanah ini disebut lapisan tanah atas (top
soil) atau sering disebut horizon A. Horizon O dan A umumnya menjadi satu kelompok lapisan tanah
atas. Lapisan yang terletak di bawahnya, secara nisbi mengandung bahan organik yang berkurang,
rongga-rongga lebih mampat, merupakan zone pengendapan koloid-koloid tanah yang tercuci dari
lapisan di atasnya. Lapisan ini disebut dengan lapisan B dan C sebagai lapisan tanah bawah (sub
soil). Hanya saja pada lapisan C lebih mendekati lapisan R. Sedangkan makin ke bawah keadaan
rongga tanah makin rapat dan sampai pada lapisan R merupakan lapisan batuan induk (bed rock).
Lapisan yang ada di atas batuan induk yang sudah mengalami pelapukan/penghancuran atau dari
hasil pengangkutan dari tempat lain (mencakup lapisan A – C disebut Regolith. Regolith merupakan
lapisan residual sumber bahan pelikan yang menjadi bahan induk tanah. Jenis regolith lainnya yang
penting, yang terdiri dari bahan-bahan pelikan adalah regolith dari endapan bahan sungai, endapan
glasial, endapan gelombang, dan endapan arus serta angin.
Di suatu lokasi di mana terdapat satu jenis tanah tertentu, sifat-sifatnya mungkin tetap konstan sampai
pada jarak tertentu ke semua jurusan. Daerah yang sifat-sifat tanahnya sama atau konstan,
menyusun suatu tubuh tanah. Namun demikian pada akhirnya suatu perubahan nyata pada satu atau
lebih faktor pembentuk tanah akan terjadi.
1.2 Pedologi dan Edapologi
Setelah pengertian umum mengenai tanah dimengerti, sehingga diketahui tanah dapat dipandang (1)
sebagai hasil pelapukan biokimia alam, dan (2) sebagai tempat di mana tumbuhan dapat hidup.
Pengertian ini menggambarkan dua cara pendekatan dalam mempelajari tanah, satu cara yang
dijalankan oleh seorang pedolog dan cara lain oleh seorang edapolog (Harry & Brady, 1982: 9 ).
Fase-fase tertentu seperti asal tanah, klasifikasi tanah, uraian tanah masuk ke lingkungan pedologi.
Pedologi menganggap tanah sebagai bahan (tanah) alam semata-mata dan sedikit dihubungkan
langsung dengan pelaksanaan kegunaannya. Seorang pedolog mempelajari, memeriksa dan
menggolong-golongkan tanah sebagaimana tanah itu terdapat di alam. Hasilnya mungkin berguna
baik bagi insinyur-insinyur jalan, bangunan, dan ahli lainnya yang berkepentingan atau berkaitan
dengan tanah serta bagi para petani.
Edapologi adalah ilmu yang mempelajari tanah dari sudut tumbuh-tumbuhan tingkat tinggi. Dalam hal
ini yang diperhatikan adalah berbagai sifat tanah yang bertalian dengan produksi tanaman. Para
edapolog merupakan orang-orang praktek, sebab mereka mempunyai tujuan akhir memproduksi
makanan dan serat. Di samping itu mereka juga harus menjadi ilmuwan, sebab mereka harus
menentukan sebab produktivitas yang berbeda dan menentukan cara pengawetan serta cara
meningkatkan produktivitasnya.
Dari beberapa pengertian tentang ilmu yang mempelajari tanah seperti yang telah diuraikan di atas,
maka kita telah dapat memberikan deskripsi menegenai perbedaan dan persamaan, antara ilmu tanah
(pedologi atau edapologi) serta geografi tanah.
Ringkasan
Tanah merupakan tubuh alam yang menempati bagian teratas dari permukaan bumi, mempunyai
lapisan-lapisan yang relatif sejajar dengan permukaan bumi, sebagai hasil dari proses
penghacuran/pelapukan batuan induk, tersusun atas bahan organik dan anorganik, serta merupakan
media pertumbuhan tanaman, memilki sifat-sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad-jasad hidup
yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan relatif tertentu selama jangka waktu tertentu
pula. Konsep lahan dan tanah adalah berbeda, di mana lahan mempunyai pengertian yang lebih luas
dari tanah. Dalam pengertian lahan terbayang dalam pikiran kita tentang suatu ruang dan apa yang
terkandung di dalamnya termasuk bagaimana keadaan morfologi, tumbuhan, bangungan dan
keadaan tanahnya. Dengan demikian lahan adalah merupakan suatu ruang di permukaan bumi yang
dapat dieksploitasi oleh manusia sebagai sumberdaya. Tujuan Geografi Tanah adalah untuk mencatat
(record) dan menjelaskan genesis, perkembangan, sifat-sifat dan agihan tanah-tanah di permukaan
bumi yang diwujudkan dalam peta tanah. Untuk mencapai tujuan ini diperlukan metode survei tanah,
yang pada garis besarnya menggunakan metode; a) hampiran geografi dengan pendekatan fisiografi
atau bentuklahan (landform), b) hampiran parametrik.
Pertanyaan dan Tugas
1. Jelaskan ruang lingkup kajian ilmu tanah dan geografi tanah?
2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan bentangtanah dan jelaskan pula apa bedanya dengan
bentanglahan?
3. Apa persamaan dan perbedaan antara pedologi dan edapologi?
4. Gambarkan dan jelaskan mengenai profil tanah!
Daftar Bacaan
Haryoko. Andianto, 1999, Aplikasi PJ dan SIG dalam Evaluasi Lahan Untuk Permukiman, Tesis,
Yogyakarta: Program Pascasarjana UGM
Jamulya, 1989, Geogarafi Tanah, Konsep dan Terapannya, Makalah Pidato Pengukuhan Jabatan
Lektor Kepala Madya Dalam Geografi Tanah, Yogyakarta: Fakkultas Geografi UGM.
Jamulya dan Suratman, 1983, Geografi Tanah, Yogyakarta: Fakultas Geografi Universitas Gadjah
Mada.
Suryatna Rafi’i, 1985, Ilmu Tanah, Bandung: Penerbit Angkasa.
Tejoyuwono Natohadiprawiro, 1994, Geografi Tanah, Diktat, Yogyakarta: Program Pascasarjana
UGM.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar